Sebab
itulah, buku "Sepuluh Siswa" karya Lin Shi
Min yang diterbitkan oleh penerbit Karaniya dan Ehipassiko
Foundation ini, menjadi sebuah buku yang langka dan
istimewa di tengah gersangnya gurun penerbitan Dhamma
untuk anak-anak di negara kita. Seperti yang terbaca
dari judulnya, buku ini adalah kumpulan kisah-kisah
dari sepuluh siswa Buddha yang merupakan manusia-manusia
utama dengan keunggulan-keunggulannya yang patut diteladani.
Diantaranya adalah YA Sariputta dengan kebijaksanaannya,
YA Moggalana dengan kemampuan batin supranaturalnya,
YA Upali dengan kedisiplinannya, dan YA Kasyapa dengan
keteguhannya. Juga tak ketinggalan YA Ananda, dengan
kesetiaan dan kemampuannya yang luar biasa dalam mengingat
Dhamma.
Pada
hemat saya, kisah-kisah semacam ini sangat perlu diperkenalkan
kepada anak-anak kita. Karena ketimbang anak-anak kita
hanya mengenal tokoh- tokoh superhero macam Superman,
Batman, Spiderman, dan man-man yang lainnya, lebih baik
kalau mereka pun juga mengenal tokoh-tokoh superhero
sejati seperti
sepuluh siswa utama Buddha ini. Sebab, terlepas dari
kenyataan bahwa para superhero seperti Superman dkk
juga mengajarkan prinsip-prinsip kebenaran dan keadilan
(membela kebenaran, memberantas kejahatan dan menolong
yang lemah), toh kita tak dapat mengelak dari efek samping
yang mereka hasilkan: kekerasan dan agresivitas. Berbeda
halnya dengan kisah para siswa utama Buddha seperti
sepuluh siswa ini, yang selain unggul dalam kesuperheroannya
(coba, apakah Superman bisa menghilang atau menyelam
ke dasar bumi? Apakah Batman bisa mengubah diri menjadi
kelelawar atau Spiderman jadi laba-laba yang asli? Padahal
YA
Moggalana bahkan bisa pergi ke neraka untuk menolong
ibunya), juga unggul dalam kualitas moral dan kesempurnaan
perilakunya.
Tetapi
karena memang khusus ditulis untuk kalangan anak-anak,
maka supaya dapat dicerna oleh alam pikiran mereka yang
masih polos, menjadi tak terelakkan untuk menyederhanakan
bahasa dan cara penyampaian kisah-kisah sepuluh siswa
seperti yang ada di dalam buku ini. Hal ini bagi umat
Buddha dewasa mungkin akan terasa agak aneh atau janggal,
bagaimana misalnya murid-murid Buddha berbicara kepada
Gurunya dengan bahasa yang "sangat akrab"
seperti layaknya berbicara kepada teman-temannya sendiri.
Yang mana dalam kenyataan tentu saja hal ini tak mungkin
terjadi. Karena bagaimanapun
Buddha adalah seorang Guru, dan kepada-Nya kita memberi
hormat dengan menggunakan cara berbicara dan bahasa
yang pantas. Tetapi baiknya soal penyederhanaan itu
dan konsukuensinya telah pula disadari oleh penulis
buku ini, dan saya rasa, mengingat prioritas utama adalah
untuk memperkenalkan Dhamma kepada anak-anak melalui
kisah sepuluh siswa ini, maka dalam hal ini kita perlu
sedikit berkompromi. Karenanya, untuk menghindari kesan-kesan
atau pengertian yang salah akibat sedikit penyederhanaan
itu, orang tua
sebaiknya membuka diri untuk berdialog dan bersedia
mendampingi putra-putrinya ketika membaca buku ini.
Selain
itu, beberapa kisah dalam buku ini mungkin dapat sedikit
membingungkan sebagian pembaca, terutama mereka yang
berasal dari tradisi Theravada. Karena buku ini ditulis
ulang berdasarkan karya Master Hsin
Yun (dugaan saya beliau adalah seorang guru dari tradisi
Mahayana), maka cerita tentang YA Moggalana menjadi
sedikit berbeda dengan kisah yang selama ini saya kenal
dari tradisi Theravada. Juga kisah mengenai YA Upali
yang mencukur rambut Buddha, yang mana dalam tradisi
Theravada dikisahkan bahwa sejak malam pelepasan agung-Nya,
rambut Buddha tak pernah tumbuh lagi (dan karena itu
tak pernah perlu dicukur lagi). Perbedaan-perbedaan
ini menurut saya hanya sedikit membingungkan saja, tetapi
untungnya tidak merusak
pesan moral yang ingin disampaikan oleh kisah-kisah
dalam buku "Sepuluh Siswa" ini.
Pada
akhirnya, secara leseluruhan buku ini dapat disebut
sebagai buku yang benar-benar ditulis dan dipersembahkan
untuk memperkenalkan Dhamma kepada anak-anak melalui
kepahlawanan para siswa Buddha. Toh demikian, tentu
saja orang tua pun tak dilarang untuk ikut membacanya
[^_^]. Ditunjang dengan
bahasa yang sederhana, cara penyampaian yang akrab dan
luwes, dan ilustrasi berwarna yang menarik, buku ini
wajib dimiliki oleh setiap orang tua yang peduli pada
perkembangan kecerdasan spiritual anak-anaknya.
+++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Keterangan:
Judul: "Sepuluh Siswa"
Penulis: Lin Shi Min
Penerbit: Karaniya dan Ehipassiko Foundation
Penilaian:
Desain Sampul: Menarik
Isi: inspiratif
Rekomendasi: Cocok dimiliki dan dibaca sebagai buku
pengantar tidur
anak-anak, sekaligus menumbuhkan kembali tradisi mendongeng
yang sangat
bermanfaat bagi perkembangan EQ dan SQ anak-anak