Kembali ke halaman muka
Sejarah Karaniya
buku-buku terbaru
Buku-buku
Buku Buku Karaniya
Artikel -artikel
tata cara pemesanan
Hubungi kami
 

PMB: Sepuluh Siswa
Chuang, Denpasar
Mon, 28 Mar 2005 07:27:37 -0800

"Sepuluh Siswa"

Kalau kita bersedia mencermati dunia penerbitan buku-buku Dhamma di negara kita, maka sebagian besar kalau tidak mau dikatakan hampir semua penerbitan itu diperuntuk bagi umat Buddha dewasa, baik sebagai pemula maupun yang sudah pakar. Jarang sekali kita jumpai buku-buku Dhamma yang dipersembahkan
khusus untuk kalangan umat Buddha "wong cilik-cilik" alias anak-anak. Dan kalaupun ada, kebanyakan hanya berlabel "untuk anak-
"anak" tetapi dengan materi Dhamma dan cara penyampaian yang lebih mengena untuk kalangan umat "wong gede-gede". Padahal kita seharusnya mampu memperkenalkan Dhamma sedini
mungkin kepada generasi penerus kita, hingga kelak ketika seorang anak tumbuh dewasa, kita boleh berharap ia akan memiliki pemahaman dan kebijaksanaan sebagai buah yang ia petik dari pohon kebenaran sejati.
Dan pada akhirnya nanti, dengan pemahanan dan kebijaksanaannya itu, ia dapat menjadi generasi penerus yang lebih baik dari generasi kita kini.

Sebab itulah, buku "Sepuluh Siswa" karya Lin Shi Min yang diterbitkan oleh penerbit Karaniya dan Ehipassiko Foundation ini, menjadi sebuah buku yang langka dan istimewa di tengah gersangnya gurun penerbitan Dhamma untuk anak-anak di negara kita. Seperti yang terbaca dari judulnya, buku ini adalah kumpulan kisah-kisah dari sepuluh siswa Buddha yang merupakan manusia-manusia utama dengan keunggulan-keunggulannya yang patut diteladani. Diantaranya adalah YA Sariputta dengan kebijaksanaannya, YA Moggalana dengan kemampuan batin supranaturalnya, YA Upali dengan kedisiplinannya, dan YA Kasyapa dengan keteguhannya. Juga tak ketinggalan YA Ananda, dengan kesetiaan dan kemampuannya yang luar biasa dalam mengingat Dhamma.

Pada hemat saya, kisah-kisah semacam ini sangat perlu diperkenalkan kepada anak-anak kita. Karena ketimbang anak-anak kita hanya mengenal tokoh- tokoh superhero macam Superman, Batman, Spiderman, dan man-man yang lainnya, lebih baik kalau mereka pun juga mengenal tokoh-tokoh superhero sejati seperti
sepuluh siswa utama Buddha ini. Sebab, terlepas dari kenyataan bahwa para superhero seperti Superman dkk juga mengajarkan prinsip-prinsip kebenaran dan keadilan (membela kebenaran, memberantas kejahatan dan menolong yang lemah), toh kita tak dapat mengelak dari efek samping yang mereka hasilkan: kekerasan dan agresivitas. Berbeda halnya dengan kisah para siswa utama Buddha seperti sepuluh siswa ini, yang selain unggul dalam kesuperheroannya (coba, apakah Superman bisa menghilang atau menyelam ke dasar bumi? Apakah Batman bisa mengubah diri menjadi kelelawar atau Spiderman jadi laba-laba yang asli? Padahal YA
Moggalana bahkan bisa pergi ke neraka untuk menolong ibunya), juga unggul dalam kualitas moral dan kesempurnaan perilakunya.

Tetapi karena memang khusus ditulis untuk kalangan anak-anak, maka supaya dapat dicerna oleh alam pikiran mereka yang masih polos, menjadi tak terelakkan untuk menyederhanakan bahasa dan cara penyampaian kisah-kisah sepuluh siswa seperti yang ada di dalam buku ini. Hal ini bagi umat
Buddha dewasa mungkin akan terasa agak aneh atau janggal, bagaimana misalnya murid-murid Buddha berbicara kepada Gurunya dengan bahasa yang "sangat akrab" seperti layaknya berbicara kepada teman-temannya sendiri. Yang mana dalam kenyataan tentu saja hal ini tak mungkin terjadi. Karena bagaimanapun
Buddha adalah seorang Guru, dan kepada-Nya kita memberi hormat dengan menggunakan cara berbicara dan bahasa yang pantas. Tetapi baiknya soal penyederhanaan itu dan konsukuensinya telah pula disadari oleh penulis buku ini, dan saya rasa, mengingat prioritas utama adalah untuk memperkenalkan Dhamma kepada anak-anak melalui kisah sepuluh siswa ini, maka dalam hal ini kita perlu sedikit berkompromi. Karenanya, untuk menghindari kesan-kesan atau pengertian yang salah akibat sedikit penyederhanaan itu, orang tua
sebaiknya membuka diri untuk berdialog dan bersedia mendampingi putra-putrinya ketika membaca buku ini.

Selain itu, beberapa kisah dalam buku ini mungkin dapat sedikit membingungkan sebagian pembaca, terutama mereka yang berasal dari tradisi Theravada. Karena buku ini ditulis ulang berdasarkan karya Master Hsin
Yun (dugaan saya beliau adalah seorang guru dari tradisi Mahayana), maka cerita tentang YA Moggalana menjadi sedikit berbeda dengan kisah yang selama ini saya kenal dari tradisi Theravada. Juga kisah mengenai YA Upali yang mencukur rambut Buddha, yang mana dalam tradisi Theravada dikisahkan bahwa sejak malam pelepasan agung-Nya, rambut Buddha tak pernah tumbuh lagi (dan karena itu tak pernah perlu dicukur lagi). Perbedaan-perbedaan ini menurut saya hanya sedikit membingungkan saja, tetapi untungnya tidak merusak
pesan moral yang ingin disampaikan oleh kisah-kisah dalam buku "Sepuluh Siswa" ini.

Pada akhirnya, secara leseluruhan buku ini dapat disebut sebagai buku yang benar-benar ditulis dan dipersembahkan untuk memperkenalkan Dhamma kepada anak-anak melalui kepahlawanan para siswa Buddha. Toh demikian, tentu saja orang tua pun tak dilarang untuk ikut membacanya [^_^]. Ditunjang dengan
bahasa yang sederhana, cara penyampaian yang akrab dan luwes, dan ilustrasi berwarna yang menarik, buku ini wajib dimiliki oleh setiap orang tua yang peduli pada perkembangan kecerdasan spiritual anak-anaknya.

+++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Keterangan:
Judul: "Sepuluh Siswa"
Penulis: Lin Shi Min
Penerbit: Karaniya dan Ehipassiko Foundation

Penilaian:
Desain Sampul: Menarik
Isi: inspiratif
Rekomendasi: Cocok dimiliki dan dibaca sebagai buku pengantar tidur
anak-anak, sekaligus menumbuhkan kembali tradisi mendongeng yang sangat
bermanfaat bagi perkembangan EQ dan SQ anak-anak

 

Baca Pengalaman Membaca Buku lainnya
Kirimkan Pengalaman Membaca Buku Anda kepada kami melalui e-mail: pmb@karaniya.com
 
Tampilan Terbaik dengan resolusi layar 800 X 600
©2005 - Yayasan Penerbit Karaniya