| |
Sebagai
umat Buddha awam, terutama yang sudah cukup lama
mengenal ajaran Buddha atau bahkan memeluknya karena
garis keturunan/keluarga, kita mungkin sering mengalami
suatu rasa kehilangan akan daya pesona dari ajaran
yang mulia ini. Ha itu terjadi bukan karena ajaran
Buddha memang biasa-biasa saja, tetapi lebih karena
sebagai umat Buddha lama kita sudah sedemikian
terbiasa dengan ajaran ini hingga
taklagi merasa takjub
dan terpesona. Lebih-lebih ditambah dengan rutinitas
kehidupan sehar-hari
kita sebagai |
| klik
gambar untuk detail buku |
anggota masyarakat yang harus berjuang untuk tetap hidup
dan terus hidup, maka lengkaplah sudah tiadanya kesempatan
untuk kembali mengenang dan merenungi keindahan Dhamma
yang luar biasa
Hal
yang sungguh berbeda terjadi pada umat Buddha pemula
atau mereka yang baru menemukan Dhamma sebagai jalan
hidup sejatinya. Kalau kita berkesempatan untuk mendengar
atau membaca kisah-kisah para “newbie” ini,
seperti yang dapat kita baca sebagian darinya dalam
buku “Tak Kenal maka Tak Sayang” dari Ehipassiko
Foundation, kita akan temukan begitu banyak ungkapan
keterpesonaan dan ketakjuban mereka akan keindahan Dhamma
yang telah diajakarn Buddha kepada dunia.
Dengan
sepenuh hati para penutur kisah-kisah dalam buku ini
mengungkapkan bagaimana mereka bertemu dengan Dhamma,
seberapa keras dan lama mereka berjuang untuk dapat
bertemu dan mengenal Buddha beserta ajarannya, dan betapa
setelah mengenalnya mereka menjadi sangat takjub, terpesona
dan tergugah untuk menjadikan Dhamma sebagai pelita
untuk menerangi kehidupan mereka. Seperti seseorang
yang telah lama merantau lalu kembali pulang ke rumahnya,
atau seperti seseorang yang sedang berjalan di gurun
pasir lalu datang sebuah bus ber-AC yang menawarkan
diri mengantar ke tujuan, seperti itulah sebagian ungkapan
perasaan mereka tak kala bertemu pertama kali dengan
Dhamma. Masuk akal, sederhana, praktis, menghargai kebebasan
berpikir adalah sebagian pujian yang mereka tujukan
kepada ajaran Buddha.
Berisikan
15 buah kisah nyata yang merupakan autobiografi dari
pelbagai macam orang yang menemukan Dhamma dan menjadi
pengikut Buddha, buku ini menyadarkan kita kembali akan
betapa indah dan agungnya Dhamma yang telah diajakarn
Buddha kepada kita, dan bahwa betepa beruntungnya kita
yang dapat mengenal Dhamma sejak usia dini tanpa harus
berjuang keras seperti sebagian orang yang kisahnya
dapat kita baca dalam buku ini. Sebab sebagian besar
kisah-kisah dalam buku ini datang dari penutur yang
tinggal di negeri-negeri barat seperti Inggris, Amerika,
Australia dan Spanyol, dimana hanya sedikit orang yang
mengenal Dhamma.
Buku
ini sangat perlu dibaca oleh setiap umat Buddha, terutamanya
yang sudah mulai termakan oleh rutinitas kehidupan,
karena buku ini memberikan kisah-kisah yang menyentuh,
menggugah dan mencerahkan kita akan keagungan dan keindahan
Dhamma.
Dan
untuk mereka yang cukup kritis serta ingin mengetahui
mengapa banyak orang-orang yang cerdas secara intelektual
dengan pencapaian akademis yang sangat tinggi tetapi
memeluk suatu kepercayaan yang tak masuk akal sebagai
jalan hidupnya, maka di bagian akhir dari buku ini terdapat
penjelasan yang menarik dan cukup memuaskan untuk menjawab
pertanyaan itu.
+++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Keterangan:
Judul: “Tak Kenal Maka Tak Sayang”
Penyusun: Shravasti Dhammika dan Handaka Vijjananda
Penerbit: Ehipassiko Foundation
Penilaian:
Desain Sampul: Artistik
Isi: menyentuh, menggugah dan mencerahkan.
Rekomendasi: Sebuah tamasya penemuan kembali rasa takjub
dan pesona, buku ini tidak membosankan untuk dibaca
berulang kali, terutama setiap kali kita merasa bosan
atau patah semangat dalam menempuh jalan Buddha.
Chuang
010205
|